Jumat, 25 Mei 2012

KEHIDUPAN HANYALAH SEKEDAR ILUSI…

Entah kenapa saya begitu yakin bahwasannya ada beberapa orang (meskipun sebenarnya saya ingin mengatakan banyak sekali) yang tergabung dalam LA Fans Club maupun LA Lovers menantikan kelanjutan tulisan2 saya, termaksud edisi rutin memaknai kehidupan dengan fisika. #sambil ngaca trus ngelepekin rambut kribo sbelah kanan (bagian ini tidak penting, abaikan saja)…. Hahahahaha,,,

Kali ini seperti biasa, kita akan menguraikan tentang sebuah fakta sains sederhana namun jangan skali-skali menganggap tulisan ini adalah filsafat, karna saya bukanlah filsuf (buktinya, kepala saya masih penuh dengan rambut). Mungkin bisa jadi, anda tidak sepakat dengan tulisan saya nantinya, yang pasti ruang kesimpulan sepenuhnya saya serahkan kepada pembaca….!! (emangnya mau nulis tentang apasih…? Penting banget..)

Panca Indra
Sejak SD kita telah diajarkan bahwa semua sinyal yang kita dapatkan/peroleh dari kehidupan ini berasal dari 5 indra kita. Dengan mata kita bisa melihat, dengan telinga kita bisa mendengar, dengan hidung kita bisa merasakan bau, demikian juga lidah membantu kita memahami sensasi rasa masakan, pun kulit yang berfungsi sebagai peraba. Penelitian terbaru tentang ke lima indra inipun akhirnya menjadi hal yang serius dalam memahami hakikat kehidupan yang sedang kita jalani sekarang ini, andai saja kita mau merenunginya.


Titik awal dari tulisan ini adalah hendak menyatakan bahwa kehidupan yang kita rasakan/jalani ini hanyalah respon yang diciptakan oleh sinyal2 yang diterima oleh panca indra kita. Singkatnya kehidupan yang kita jalani ini hanyalah “ilusi”, sekali lagi saya tegaskan bahwa kita sebenarnya sedang berada dalam sebuah “ilusi”. Ilusi-ilusi yang terbentuk tersebut merupakan hasil kerja dari otak kita. Manusia, hewan maupun benda yang kita lihat hanyalah sebuah kesan, segala hal yang kita alami bersifat sementara dan menipu. Demikianpun alam raya ini, hanyalah sekedar bayang-bayang.

Sistim kerja panca indra
Kita bisa melihat sebuah benda, diakibatkan adanya gugus2 sinar (foton) berjalan dari objek menuju mata kita dan melewati lensa didepan mata di mana foton2 tersebut kemudian dipisahkan dan dibalikkan pada retina dibelakang mata. Disini, cahaya2 yang masuk tersebut diubah menjadi sinyal yang dikirim oleh neuron kesebuah titik mungil yang disebut sebagai pusat penglihatan dibagian belakang otak. Sinyal ini kemudian diterima sebagai sebuah kesan…!! Saat kita mengatakan “kita melihat” sebenarnya kita sedang melihat pengaruh rangsangan yang sampai kepada mata dan diteruskan keotak.

Sistim pendengaranpun demikian. Telinga2 bagian luar menangkap suara lewat daun telinga dan mengirim suara2 itu ke telinga bagian tengah. Telinga bagian tengah kemudian mengirim suara2 itu ketelinga bagian dalam dan menguatkan suara2 itu. Telinga bagian dalam kemudian mengubah suara yang masuk menjadi sebuah sinyal yang kemudian dikirim ke otak.

Persepsi kita tentang baupun tercipta dengan cara yang sama. Molekul2 yang mudah menguap seperti vanili maupun parfum mencapai reseptor dalam serabut rumit di bagian epitelium hidung, kemudian terjadilah interaksi. Interaksi-interaksi itu kemudian diubah menjadi sebuah sinyal yang diteruskan ke otak. Segala benda yang kita cium, yang kita lihat maupun suara yang kita dengar hanyalah interaksi antara otak dengan molekul-molekul yang telah diubah sebelumnya menjadi sinyal. Molekul2 tersebut sendiri tidak pernah mencapai otak.

Demikian pula dengan 4 jenis reseptor yang ada dibagian depan lidah kita, keempat reseptor tersebut membuat kita bisa merasakan rasa manis, asam, asin dan pahit. Reseptor rasa kita mengubah persepsi menjadi sinyal setelah menjalani serangkaian proses kimiawi dan mengirimnya ke otak. Sinyal-sinyal ini diterima sebagai rasa oleh otak. Begitupun halnya ketika kita menyentuh sebuah benda, informasi tentang benda tersebut akan dipelajari oleh syaraf indra dikulit dan mengirimnya ke otak.

Saya yakin, teman2 pasti jauh lebih memahami tentang sistim kerja lima indra tersebut. Namun, bukan terkait sistim kerjanya yang lebih ingin saya sorot disini, melainkan fakta unik dibalik temuan sains modern tersebut. Dimana alam semesta yang kita lihat, rasakan maupun suara yang kita dengar hanyalah kumpulan interpretasi sinyal2 yang masuk kedalam otak kita. “dunia luar” yang tersaji dalam panca indra kita hanyalah kumpulan sinyal yang telah mencapai otak kita. Materi2 tersebut di proses dalam otak dan menghasilkan sebuah persepsi yang bisa jadi tidak sesuai dengan materi aslinya. Semua hal yang kita lihat, dengar, rasakan seutuhnya tergantung dari panca indra yang kita miliki. Bisa jadi semua orang punya persepsi yang berbeda tentang suatu hal.

Ilusi yang ditimbulkan pancaindra
Lebih jauh lagi, saya akan mengambil sebuah contoh, terkait indra penglihatan, spesifiknya tentang warna. Semua orang punya persepsi yang berbeda tentang warna, bisa jadi sebuah benda terlihat biru oleh kita namun terlihat hijau oleh orang lain meskipun bisa jadi warna nyata benda tersebut bukan diantara kedua warna tersebut. Apa lagi andaikan terjadi kerusakan kecil dibagian belakang retina yang menyebapkan terjadinya buta warna pada seseorang. Ini menandakan bahwa tidak seorangpun bisa memastikan bahwa sebuah warna itu pasti, karna pada dasarnya semua orang punya persepsi yang berbeda-beda tentang warna, hal tersebut terjadi sebagai akibat dari kemampuan dari mata yang mengirim sinyal kedalam otak dan lagi2 otaklah yang mengendalikan persepsi kita tentang warna. Saat kita menyatakan “melihat” sebuah warna, sebenarnya kita sedang melihat gambaran sinar2 elektrik yang dikirim oleh mata ke otak kita.

Demikianpun halnya dengan suara. Tak ada seorangpun yang bisa mengetahui dengan pasti sebuah not A, atau bunyi kunci A pada gitar. Tiap orang punya persepsi yang berbeda tentang suara, bisa jadi kita menyatakan bahwa suara kita lebih bagus namun yang lain membantah pernyataan tersebut. Pun saat kita mencicipi masakan, semua orang punya persepsi yang berbeda-beda saat merasakan masakan yang siap disaji. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa makanan itu enak, atau alunan melodi yang dimainkan itu dengan menggunakan kunci A. sekali lagi semua itu tergantung dari otak kita.

Sederhananya seperti ini, andaikan kita memakan Apel, sebenarnya kita tidak mengetahui tentang buah apel yang kita makan tersebut, melainkan berdasarkan “gambaran” yang ada dalam otak kita. Otak kita mengirimkan gambaran tentang buah Apel tersebut, lewat bentuk, rasa, bau maupun tekstur buah. Andai saja saraf penglihatan yang mengirim sinyal2 ke otak terputus, kesan akan buah apel tersebut menjadi menghilang. Begitupun saat sensor-sensor penciuman terputus, sepenuhnya menghancurkan sensasi bau yang dimiliki buah tersebut. Sederhananya, buah itu tidak ada melainkan tafsiran2 otak kita akan sinyal yang telah dikirim.

Jadi, bisa diketahui bahwa rasa, warna, bau dan lain2 sebenarnya hanyalah ada bergantung pengindraan kita saja.

Semua yang kita miliki hanyalah “ilusi”
Sebenarnya, saya belum begitu yakin bahwa para pembaca memahami maksud dari tulisan saya diatas, karna pada dasarnya masih banyak hal-hal atau bagian dari pemaparan diatas yang harus diuraikan lagi agar semakin dimengerti. Namun seperti yang saya sampaikan diawal bahwa sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa “kehidupan ini hanyalah ilusi”. Kita sedang berada dalam sebuah “Mimpi” yang didesain oleh Sang Pencipta. Namun, kita merasa bahwa itu seolah-olah nyata adanya.

Andaikan kita benar2 jujur mau memikirkan hal itu, pasti kita akan menyadari bahwa segala yang kita miliki, rumah yang besar, mobil yang mewah, pasangan hidup, perhiasan, kekayaan, jabatan, maupun berbagai hal yang kita miliki hanyalah sebuah khayalan dan apa yang kita rasakan dengan panca indra kita juga termaksud dalam skenario khayalan tersebut.
Kehidupan sebenarnya hanyalah kumpulan kesan yang diciptakan untuk menguji manusia. Manusia diuji dengan khayalan2 yang seolah-olah realistis, persepsi-persepsi yang diciptakan ini menjadi daya tarik bagi manusia. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-qur’an

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Ali Imran [3]:14)

Tidak sedikit manusia yang kemudian meninggalkan Agama hanya untuk sebuah kekayaan, pasangan yang cantik, kedudukan dan lain sebagainya. Kitapun tertipu dengan berbagai daya tarik dunia yang ternyata adalah sebuah ilusi, dunia ini hanyalah persepsi yang semu belaka. Banyak orang yang membodohi diri sendiri dengan menimbun berbagai kekayaan yang dimilikinya. Padahal itu semua sia-sia, tidak ada yang berguna sama sekali karna semuanya hanyalah sebuah ilusi. Begitupun halnya dengan kesuksesan di dunia. Itupun hanyalah sebuah ilusi, hasil prodak otak kita. Sekali lagi, andaikan mau berpikir bahwasannya semua yang kita miliki bukanlah apa-apa melainkan hanyalah untuk menguji kita. Semua yang kita miliki hanyalah mimpi yang terdiri oleh kesan2 yang diciptakan Allah untuk menguji kita.

Akhirnya, semua penjelasan diatas saya kembalikan kepada pembaca untuk menarik kesimpulan masing2 apakah mau menganggapnya sebagai sebuah kebenaran atau sekedar celoteh sains. Yang pasti, tulisan ini hanyalah sebuah kontemplasi buat kita semua terlebih buat pribadi saya agar semakin sadar akan hakikat kehidupan yang sebenarnya serta agar tidak menyombongkan diri atas apa yang saya miliki di dunia ini. Wallahu’alam

“Dan orang-orang yang kafir; amal-amal mereka laksana fatamorgana ditanah yang datar; yang disangka air oleh orang-orang yang sedang kehausan, tetapi bila air-air itu didatangi, dia tidak mendapatinya sesuatupun…. (an-Nur [24]:39)


Sumber inspirasi :

Fisikadankehidupan.blogspot.com
Harunyahya.com
Komik Naruto Chapter 587-588 (penjelasan tentang kinjutsu izanagi dan izanami, sungguh menginspirasi…. Love this manga)

4 komentar:

intang b satria mengatakan...

terima kasih mas.. ijin share ya.. hehee

Try Zena Lantisa mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BambS CITRO mengatakan...

sip brow

Aoux Swantoro mengatakan...

Ya saya setuju bahwa pendapat Anda benar. Para orang suci zaman dahulu dalam budaya Jawa telah memberikan gbaran ini dalam pentas seni wayang kulit. Anda menyaksikan drama kehidupan dari balik layar, sehingga figur-figur yang muncul hanya terlihat bayangannya. Namun demikian hidup menjadi keindahan bila pahit getir dan asam manis kehidupan dijalani dalam KESADARAN. Sebuah kesadaran yg yg muncul dr kontemplasi yg teramat dalam, sehingga persepsi indra dan pikiran sirna.

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates