Selasa, 18 Oktober 2011

Hikmah : "Jarak dan Perpindahan"


Perpindahan adalah perubahan posisi dari suatu benda mulai dari titik acuan sampai finish. Perpindahan tidak memperdulikan panjang lintasan yang dilalui, misalkan anda berada di pulau bima dan ingin menuju ke jawa, Perpindahan nya tetap sama misalkan anda bergerak dari bima langsung kejawa atau anda dari bima kemudian kesulawesi lalu ke Kalimantan dilanjutkan ke Sumatra kemudian ke jawa. Padahal sebenarnya anda telah melakukan perjalanan yang sangat jauh.
Sedangkan jarak adalah perubahan posisi dengan melihat lintasan yang dilaluinya. Jadi Jarak ini ikut memperhatikan proses yang dilalui oleh sebuah partikel/benda.

Dalam kehidupan sehari-hari, penulis memaknai perpindahan bagaikan orang yang hanya melihat hasil saja tanpa memperdulikan proses, orang2 yang sudah “mati rasa”, orang2 yang hanya mencari untung saja tanpa memaknai arti dari pengalaman hidup, orang2 yang tidak mengambil pelajaran dari aktifitas kehidupan yang dilaluinya, dari kegagalan2 yang dirasakannya. Banyak sekali kita menjumpai orang2 seperti ini, sehingga pada akhirnya mereka banyak mengambil jalan yang terkadang salah, demi mendapatkan apa yang mereka inginkan, karna mereka hanya peduli akan hasil akhir. Hasil akhir disini adalah berupa kekayaan ataupun kekuasaan. Orang2 yang bermental “perpindahan” terkadang beranggapan bahwa tujuan hidup adalah meraih kesuksesan berupa kekayaan dan hanya sebatas itu, tidak lebih.
Namun, tidakkah kita menyaksikan akhir hidup dari mereka? (orang2 yang
bermental “perpindahan”). Misalkan saja Direktur Utama Hyundai yang melompat dari gedung pencakar langit, Adoft Hitler yang mati bunuh diri, Ernest Hemingway sastrawan pemenang nobel yang juga mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Rentetan fakta diatas membuktikan bahwa kekayaan, kesuksesan tidak selamanya membuat pemiliknya bahagia dan menemukan arti dari kehidupan sesungguhnya.
      Sedangkan jarak, penulis menganalogikannya sebagai seseorang yang tidak sekedar mencari keuntungan namun juga mengharapkan pengalaman, orang2 yang menjadi besar karena kegagalannya, orang2 yang menjadi sukses berkat pengalaman hidupnya. Orang yang merasakan pahit pada sesuatu yang pahit, dan merasakan manis pada sesuatu yang manis, sehingga semua itu bisa menjadi hikmah baginya dan menjadi pelajaran hidup melalui pesan yang disampaikan oleh semua cobaan yang dihadapinya.
Bukankah Jarak tidak hanya melihat akhir dari sebuah gerak tetapi juga melibatkan factor proses pencapaian terhadap garis finis atau titik akhir. Begitulah orang yang sukses, memaknai segala yang dilakukannya bukanlah hanya dilihat dari sebuah pencapaiannya saja namun proses dia menggapai cita2nyapun dia perhitungkan sebagai sebuah pengalaman yang berharga. Bukankah Allah juga melihat proses bukan sekedar hasil.

Untuk lebih memahami perbedaan antara orang yang bermental “jarak” dan yang bermental “perpindahan”, saya akan berikan satu contoh. Ada dua orang sahabat yang sama-sama mencoba membangun usaha, mereka memiliki modal yang sama dan jenis usaha yang sama, namun yang membedakan dari mereka adalah mental mereka. Orang yang pertama, katakanlah saja pak “J”, mempunyai mental “jarak”, ketika membangun usaha dia mengingankan keuntungan namun dia juga memahami bahwa jalan tidak selamanya mulus dan percaya akan pentingnya sebuah pengalaman.
Orang yang kedua, sebut saja pak “P”, memiliki mental “perpindahan”, dalam benaknya, keuntungan adalah satu2nya alasan kenapa dia membangun usaha. Keduanyapun dengan giat menjalankan aktifitas usaha mereka masing2, pada awalanya mereka berhasil, kerajaan bisnis yang m,ereka bangun mengalami kesuksesan. Namun, setelah beberapa bulan kemudian usaha mereka diterpa kerugian. Akibatnya, pak “P” merasa bahwa usaha tersebut sudah tidak mampu menghasilkan keuntungan lagi kemudian lantas dia meninggalkan usaha tersebut. Baginya keuntungannlah yang dia tuju, ketika keuntungan tidak dia dapatkan, maka untuk apa usaha itu dilanjutkan. Sedangkan pak “J”, berusaha kembali bangkit dari keterpurukan usahanya dengan mempelajari penyebap kerugian usahanya dari pengalaman yang dilaluinya. Akhirnya dia berhasil menjadi sukses kembali, berkat sikap pantang menyerah yang dimilikinya.
Satu hal yang perlu kita pahami disini adalah bahwa tidak ada jalan yang lurus, semuanya penuh rintangan dan cobaan. Bukankah Allah berfirman dalam Al-Qur’an.
Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum dating kepadamu cobaan seperti (yang dialami) orang2 terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang dengan berbagai cobaan, sehingga Rasul dan orang2 yang beriman bersamanya berkata “kapankah datang pertolongan Allah?” ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (Q.S Al-Baqarah [2];214)

Saya sangat tertarik ketika bapak Mario teguh dalam acara Golden way menjelaskan tentang perjalanan hidup manusia. Sesungguhnya hidup kita adalah merupakan masa pencarian. Pencarian akan eksistensi hidup, makna dan hakikat hidup sebenarnya. Ketika kita menuju atau mencari makna hidup tersebut, terkadang kita salah jalan dan harus berbalik arah untuk menuju ketempat tujuan. Namun, perjalanan tersebut tidaklah mudah karena banyak cobaan dan waktu yang terbuang untuk mendapatkan makna dari kehidupan tersebut. Dan terkadang kita akan berhasil menemukannya namun pada saat itu barulah kita sadar bahwa kita sudah terlalu tua untuk mulai menjalani dan memaknai arti dari sebuah kehidupan. Itulah sebabpnya orang tua jauh lebih bijak menjalani kehidupan dibandingkan anak muda pada umumnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates